Tanggal Posting

July 2013
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Aktifitas


Puasa yang Sia-sia

Penyebab Puasa jadi Sia-sia

Puasa Ramadhan secara syar’i didefinisikan sebagai upaya menahan diri (imsak) dari makan, minum dan berhubungan suami-istri, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, yang disertai dengan niat (Ash-Shabuni, Tafsir Ayat Ahkam, I/188).

Dengan demikian, siapapun yang bisa menahan diri (imsak) dari makan, minum dan hubungan suami-istri—dari  terbit fajar hingga terbenam matahari—yang disertai dengan niat telah dianggap sebagai orang yang berpuasa. Dalam kondisi demikian puasanya sah secara syar’i.

Namun demikian, keabsahan puasa secara syar’i ini tidak otomatis bakal mendatangkan pahala bagi pelakunya. Sebab, kesempurnaan puasa hanya mungkin dengan cara menjauhi hal-hal yang dilarang dan tidak terjatuh pada perkara-perkara yang diharamkan (Ash-Shabuni, I/188). Dengan kata lain, ada syarat lain yang harus dipenuhi oleh orang yang berpuasa agar puasanya sempurna, yakni dia harus menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasanya atau ‘membatalkan’ pahala puasanya. Dia harus menjauhkan diri dari puasa yang sia-sia.

Puasa yang sia-sia adalah puasa yang tidak menghasilkan (pahala) apapun selain lapar, dahaga dan kepayahan. Sayangnya, justru puasa jenis inilah yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam, sebagaimana diisyaratkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw., “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya itu selain lapar dan dahaga saja.” (HR ath-Thabrani).

Perkara apa saja yang bisa merusak atau membatalkan pahala puasa? Semua kemaksiatan atau dosa, kecil apalagi besar, hakikatnya bisa merusak atau membatalkan pahala puasa. Pertama: dosa mata. Banyak Muslim yang berpuasa, tetapi dia tidak bisa menahan diri dari memandang perkara yang haram. Contohnya adalah memandang aurat wanita yang bukan mahram, melihat gambar-gambar porno, dll. Puasa orang seperti ini tentu akan rusak, bahkan pahala puasanya bisa hilang tak berbekas. Ini karena menjaga pandangan dari perkara-perkara yang haram adalah wajib (Lihat: QS an-Nur [24]: 30-31).

Kedua: dosa lisan. Puasanya seorang Muslim yang tidak dibarengi dengan menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain (ghibah) juga akan rusak, bahkan tidak akan mendatangkan pahala apapun. Demikian pula kata-kata kotor/jorok dan keji seperti menyebar tuduhan palsu dll; akan merusak puasa atau membatalkan pahala puasa. Ini sebagaimana sabda Nabi SAW,  “Puasa itu adalah perisai. Karena itu jika salah seorang kalian berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor/jorok dan berdusta.” (HR Ahmad).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan haus yang dia tahan.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah SAW pun bersabda,Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan jorok.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).

Ketiga: dosa telinga. Contohnya adalah mendengarkan kata-kata kotor/jorok, mendengarkan keburukan-keburukan orang lain, bahkan sekadar mendengarkan lagu-lagu yang penuh dengan syair-syair yang mempropagandakan kemaksiatan, dll. Semua itu bisa merusak puasa atau membatalkan pahala puasa.

Keempat: dosa tangan. Contohnya adalah menyentuh, merangkul atau bahkan memeluk wanita yang bukan mahram; memukul orang lain tanpa alasan yang haq; mencuri; dll.

Kelima: dosa kaki. Contohnya adalah berjalan-jalan ke tempat-tempat yang memungkinkan dirinya terjerumus ke dalam dosa, seperti tempat-tempat hiburan atau keramaian di mana banyak wanita yang membuka aurat berlalu-lalang, tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ikhtilath (campur-baur laki-laki perempuan), dll.

Keenam: dosa anggota tubuh lainnya. Tentu, ini mencakup semua perilaku yang bisa mendatangkan dosa. Contohnya adalah membuka aurat meski sekadar memperlihatkan selembar rambutnya, ber-khalwat atau ber-ikhtilath, melakukan transaksi ribawi, suap-menyuap, korupsi, melakukan dosa besar seperti zina atau membunuh, menzalimi orang lain (menyakiti tubuhnya, merampas hartanya, menodai kehormatannya, dll). Terkait dengan semua ini, Ibnu Rajab al-Hanbali bertutur, “Ketahuilah, amalan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT  dengan meninggalkan berbagai syahwat yang halal di luar Ramadhan (seperti makan/minum atau berhubungan suami-istri, pen) tidak akan sempurna hingga seseorang meninggalkan perkara yang Allah SWT larang yaitu berdusta, bertindak zalim serta bermusuhan dengan sesama manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latha’if al-Ma’arif, 1/168).

Jabir bin ‘Abdillah juga bertutur, “Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram. Janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari-hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat: Latha’if al-Ma’arif, 1/168).

Alhasil, agar puasa kita tak sia-sia, marilah kita meninggalkan perkara-perkara yang haram, syubhat maupun hal-hal yang tak berguna. Wa ma tawfiqi illa bilLah. [] abi.

sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/

*****

Kafarat Bagi Yang Tidak Puasa Sehari Saja di Bulan Ramadhan

Telah bercerita kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ali bin Muhamad, dimana keduanya berkata bahwa telah bercerita kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Habib bin Abi Tsabit dari Ibnu al-Muthawwas dari ayahnya, yaitu al-Muthawwas dari Abu Hurairah ra. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

« مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَمْ يُجْزِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ »

Siapa saja yang berbuka (tidak berpuasa) sehari saja di bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (keringanan atau alasan yang dibolehkannya tidak berpuasa), maka itu tidak cukup diganti dengan puasa satu tahun.” (HR. Ibnu Majah).

Puasa Ramadhan termasuk salah satu dari lima rukum Islam. Sehingga ia merupakan salah satu dari lima tiang (pilar) Islam yang utama. Oleh karena itu, bagi orang yang meninggalkan rukun ini, atau mengabaikannya, maka ia benar-benar berhak mendapatkan azab yang pedih di akhirat, termasuk sanksi (hukuman) yang akan dijatuhkan oleh khalifah kepadanya di dunia.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas bahwa dosa besar bagi siapa saja yang berbuka (tidak berpuasa) tanpa rukhshah, meski hanya sehari di bulan Ramadhan. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak berpuasa sebulan penuh? Bagaimana dengan orang yang menyiapkan makanan bagi orang yang tidak berpuasa tanpa rukhshah? Inilah fenomena sekarang yang kita saksikan di negeri-negeri kaum Muslim, dimana warung-warung membuka pintunya, bahkan ada sebagian yang menjalani hidup seperti biasa, seakan-akan ia tidak tahu dan tidak peduli dengan perkara puasa Ramadhan ini. Semua ini adalah buah dari kelemahan para penguasa kita yang rela dengan kehidupan kufur, kelakar dan kemaksiatan mewarnai anak-anak putra dan putri dari umat ini.

Sehingga, kepada siapa saja yang berbuka (tidak berpuasa) tanpa rukhshah, meski hanya sehari saja di bulan Ramadhan, maka kami mengingatkannya dengan Rasulullah Saw yang bersabda dalam sebuah hadits yang panjang, dimana dalam hadits itu Rasulullah Saw menggambarkan keadaan mereka yang berbuka (tidak berpuasa) tanpa rukhshah pada hari kiamat: ” … Tiba-tiba (saya melihat) suatu kaum yang mereka sedang digantung dengan urat ketingnya, dimana mulut mereka disobek hingga mengalirkan darah. Lalu, saya (Rasulullah) bertanya: “Siapa mereka itu?” Kedua orang (malaikat) itu menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa), dan belum mengganti (mengqadha’) puasa yang mereka tinggalkan …”. (HR. Nasa’i dalam as-Sunan al Kubra).

Kami memohon kepada Allah rahmah (belas kasih) dan maghfirah (ampunan). Ya Allah, kabulkanlah permohonan hamba-Mu yang lemah ini.

Sumber: hizbut-tahrir.info, 3/8/2012.


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>